Senin, 18 November 2024

“Golput, Nyoblos, dan Filosofi Tempe Goreng”

demokrasi

Golput atau nyoblos, semua soal tempe goreng: murah, enak, terjangkau. Demokrasi rumit, tapi tempe sederhana—itulah harapan bangsa!

Matahari belum sepenuhnya naik ketika Kabul menyeret kursi plastik ke depan warung Mbok Murni. Warung kecil di pojok kampung itu, dengan dinding anyaman bambu dan aroma kopi hitam yang selalu sedap, menjadi tempat favorit Kabul. Tapi pagi itu bukan kopi yang ia cari. Ia mencari lawan debat, dan yang paling tepat adalah Santoso, si penjaga TPS dadakan yang doyan pidato.

Santoso, pria berperawakan tegap dengan kaos oblong bertuliskan “Pilkada Damai”, sudah duduk di situ sambil menyeruput teh hangat. Di tangannya, selembar surat suara dummy yang ia pegang seperti sedang memegang peta harta karun.

“Eh, Sobat Golput datang juga!” sapa Santoso dengan tawa menggelegar. “Tumben pagi-pagi nongol. Biasanya cuma nongkrong kalau hujan deras, biar dapat alasan ngopi gratis.”

Kabul menyeringai. “Ngopi gratis mah tradisi, Toso. Bukan soal hujan atau pilkada. Lagian, kamu ini sibuk banget ya, kelihatan banget panitia TPS-nya. Tapi jangan berharap aku nyoblos ya. Tahun ini aku tetap Golput!”

Santoso membelalakkan mata seolah Kabul baru saja mengaku sebagai keturunan alien. “Lagi-lagi Golput? Astaga, Bul, kamu ini nggak berubah sama sekali! Gimana bangsa ini maju kalau orang kayak kamu nggak mau ikut ambil suara?”

Kabul mendengus sambil menyesap kopi. “Bangsa ini maju bukan karena aku nyoblos, Toso. Bangsa ini maju kalau tempe goreng di warung Mbok Murni nggak berubah harganya tiap minggu. Kamu nyoblos tiap pilkada juga nggak bikin tempe lebih murah kan?”

Santoso menepuk dahinya, lalu menatap Kabul seperti seorang guru yang frustasi menghadapi murid bandel. “Bul, nyoblos itu bukan soal murahnya tempe. Ini soal hak dan tanggung jawab sebagai warga negara!”

“Dan Golput juga hak, Toso,” jawab Kabul santai. “Aku kan nggak melanggar hukum. Nggak nyoblos itu juga pilihan politik.”

Santoso langsung berdiri, menunjuk-nunjuk ke arah Kabul. “Tapi Golput itu sama aja kayak diam di tengah kebakaran, Bul! Kalau rumah kita terbakar, masa kamu cuma duduk santai sambil bilang, ‘Ya udah, biar aja terbakar’? Gimana?”

Kabul tertawa sambil mengangkat kopinya. “Halah, perumpamaanmu itu nggak masuk akal. Kalau rumahku kebakaran, ya aku bakar sekalian rumah tetangga biar adil!”

Debat mulai memanas

Santoso menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tapi jelas, ia terlalu semangat untuk berhenti. “Bul, begini. Misalnya ada dua calon, satu jelek banget, satu jelek aja. Kalau kamu Golput, kamu bikin yang jelek banget menang! Kamu itu bagian dari masalah, Bul!”

“Toso, dua-duanya jelek, ya aku nggak pilih. Simpel!” Kabul mengangkat bahu. “Kamu kayak dipaksa makan singkong basi atau nasi basi. Kalau aku, mending nggak makan sekalian.”

“Ya nggak gitu logikanya!” seru Santoso. “Kamu bisa pilih yang lebih baik di antara yang buruk!”

“Lah, kalau buruk semua, ya kenapa kita harus tetap pilih?” Kabul membalas dengan senyum licik. “Jadi, kamu mau bilang, daripada lapar, mending makan batu?”

Santoso melipat tangan di dada, mencoba meredam emosi. “Nggak, Bul. Aku bilang, kalau kita nggak nyoblos, kita kehilangan kesempatan untuk membuat perubahan. Demokrasi itu bukan soal sempurna, tapi soal berproses.”

Kabul memiringkan kepala, pura-pura berpikir keras. “Proses? Proses apanya? Tiap pilkada, sama aja. Janji-janji palsu, politik uang, terus ujung-ujungnya korupsi. Itu proses atau siklus setan?”

Filosofi Tempe Goreng

Mendengar argumen Kabul, Mbok Murni, yang dari tadi diam mendengarkan sambil menggoreng tempe, akhirnya angkat bicara. “Kalian ini debat terus soal nyoblos sama Golput. Tapi nggak ada yang beli tempeku! Demokrasi kok nggak menyelamatkan bisnis kecil, ya?”

Kabul tertawa keras. “Nah, itu, Mbok! Santoso bilang nyoblos bikin perubahan. Tapi tempe Mbok Murni tetep aja mahal. Mana perubahanmu, Toso?”

Santoso langsung menyahut, “Bul, harga tempe itu urusan ekonomi global! Bukan urusan pilkada!”

“Jadi, kalau ekonomi nggak berubah, kenapa harus repot nyoblos?” Kabul kembali menyerang.

Mbok Murni tersenyum licik, mengacung-acungkan spatula. “Tapi kalau Golput semua, bisa jadi yang menang malah makin bikin tempeku nggak laku. Jadi, Toso ada benarnya juga, lho.”

Santoso tersenyum bangga, merasa mendapat dukungan. Tapi sebelum ia sempat membuka mulut, Kabul sudah memotong. “Lho, Mbok, kalau semua nyoblos, terus tetap nggak ada perubahan, gimana?”

“Ya kalian salah milih calon,” jawab Mbok Murni santai, membuat Santoso terbatuk karena menahan tawa.

Debat diambangkan oleh Filosofi Kopi

Suasana mulai tenang sejenak. Kabul dan Santoso sibuk mengunyah gorengan sambil berpikir untuk ronde debat berikutnya. Akhirnya Santoso memulai lagi, kali ini dengan nada lebih lembut.

“Bul, aku ngerti kok. Kamu mungkin skeptis. Tapi kamu harus lihat ini sebagai tanggung jawab kita. Bukan soal hasilnya, tapi usahanya. Kita ini hidup di negara demokrasi. Kalau kita diam, ya jangan protes kalau yang terpilih nggak sesuai harapan.”

Kabul mengangguk perlahan. “Toso, aku ngerti juga maksudmu. Tapi aku juga punya tanggung jawab ke diriku sendiri. Kalau aku nggak percaya sama sistem atau kandidatnya, aku nggak mau terlibat. Itu bukan berarti aku nggak peduli, tapi aku memilih cara lain untuk berjuang.”

Santoso menatap Kabul dengan serius. “Cara lain? Maksudmu, kamu mau jadi aktivis atau apa?”

“Bukan,” jawab Kabul, sambil mengangkat tempe gorengnya. “Aku mau memastikan tempe Mbok Murni tetap enak dan terjangkau. Itu kontribusiku untuk masyarakat.”

Santoso tertawa terbahak-bahak, sementara Mbok Murni menggeleng-gelengkan kepala. “Dasar kalian, debat muluk-muluk ujung-ujungnya tempe juga.”

Penutup Penuh Makna

Saat hari mulai siang, Kabul dan Santoso akhirnya sepakat untuk tidak sepakat. Tapi mereka tetap duduk bersama, menikmati gorengan dan kopi. Bagi mereka, perbedaan pendapat bukan alasan untuk saling bermusuhan.

“Bul,” kata Santoso sambil tersenyum, “meskipun kamu Golput, aku tetap anggap kamu teman. Tapi kalau tempe ini harganya naik lagi, aku yang bakal protes ke pemerintah.”

“Dan aku yang bakal nyuruh Mbok Murni ikut pilkada biar bisa bikin kebijakan soal tempe,” balas Kabul sambil tertawa.

Mereka tertawa bersama, meninggalkan perdebatan, tapi membawa satu kesepakatan: demokrasi mungkin rumit, tapi tempe goreng selalu sederhana. Dan dari kesederhanaan itu, siapa tahu perubahan bisa dimulai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar